Jumat, 17 Februari 2012

LATIFAH


 LATIFAH

1. latifatul qolbi
2. latifatur ruh
3. latifatus sirri
4. latifatul khoffi
5. latifatul akhfa
6 .latifatun nafsi
7. latifatul qolab

‎1. latifatul qolbi

Tempatnya kira-kira 2 jari di bawah buah dada kiri. yang mempunyai pengikut-pengikut di bawah ini (nafsu lawamah) :

1. lupa mengingat allah
2. suka mencela
3 . menuruti hawa nafsu
4 . makar/menipu
5. membanggakan diri
6. mengunjing
7. riya/pamer
8. aniaya/dhalim
9. berbohong


‎2. latifatur ruh

tempatnya kira-kira 2 jari dibawah buah dada kanan. Yang mempunyai pengikut-pengikut (nafsu mulhimah/sawiyah):

1. dermawan
2. tidak rakus
3. lapang dada
4. merendahkan hati
5. bertaubat
6. tahan uji
7. tahan menderit


‎3. latifatus sirri

tempatnya kira-kira 2 jari di atas buah dada kiri. Yang mempunyai pengikut-pengikut (Nafsu mutmainah) :

1 tidak kikir
2. tawakal
3, ibadah dengan ikhlas
4. syukur atas nikmat
5. ridho
6. takut maksiat


4. latifatul khoffi

tempatnya kira-kira 2 jari di atas buah dada kanan. Yang mempunyai pengikut-pengikut (Nafsu Mardiay/Rodhiyah) :

1. baik budi pekerti
2. meninggalkan selain Allah SWT
3. belas kasihan kepada sesama makhluk
4. selalu mengajak kepada kebaikan
5. memaafkan kesalahan semua pihak
6. sayng sesama makhluk hidup
7. tahu diri


5. latifatul akhfa

tempatnya ditengah-tengah dada. Yang mempunyai pengikut-pengikut (Nafsu Mardliyyah) :

1. ilmu yaqin
2. ainul yaqin
3. haqqul yakin


‎6 .latifatun nafsi

Tempatnya di antara 2 alis (ditengah-tengah jidat). Yang mempunyai pengikut-pengikut (Nafsu Amarah) :

1. pelit/bakil/kikir
2. serakah
3. dengki/iri hati
4. bodoh
5. takabur
6. syahwat melanggar syariat
7. pemarah


‎7. latifatul qolab.

Nafsu Kamilah..tidak punyai pengikut. jika latifah 7 ini dikuasai akan mengalami Musyahadah & makrifat.

TALQIN DZIKIR


TALQIN DZIKIR

Didalam thoriqoh ada yang disebut Talqinudz-Dzikr, yakni pendiktean kalimat dzikir La ilaaha illallah dengan lisan (diucapkan) atau pendiktean Ismudz-Dzat lafadz Allah secara bathiniyah dari seorang guru mursyid kepada muridnya.
Dalam melaksanakan dzikir thoriqoh seseorang harus mempunyai sanad (ikatan) yang mutasil (bersambung) dari guru mursyidnya yang terus bersambung sampai kepada Rasulullah SAW. Penisbatan (pengakuan adanya hubungan) seorang murid dengan guru mursyidnya hanya bisa melalui Talqin dan Ta'lim dari seorang guru yang telah memperoleh izin untuk memberikan ijazah yang sah yang bersandar sampai kepada guru mursyid Shohibuth Thoriqoh, yang terus bersambung sampai kepada rasulullah SAW.
Karena dzikir tidak akan memberikan faidah secara sempurna kecuali melalui talqin dan izin dari seorang guru mursyid. Bahkan mayoritas ulama thoriqoh menjadikan talqin dzikir ini sebagai salah satu syarat dalam berthoriqoh. Karena isi (rahasia) didalam thoriqoh sesungguhnya adalah keterikatan antara satu hati dengan hati yang lainnya sampai kepada rasulullah SAW, yang bersambung sampai kehadirat Yang Maha Haqq, Allah Azza wa Jalla.
Dan seseorang yang telah memperoleh talqin dzikir yang juga lazim disebut baiat dari seorang guru mursyid, berarti dia telah masuk silsilahnya para kekasih Allah yang Agung.
Jadi jika seeorang berbaiat thoriqoh berarti dia telah berusaha untuk turut menjalankan perkara yang telah dijalankan oleh mereka.
Perumpamaan orang yang berdzikir yang telah di talqin / dibaiat oleh guru mursyid itu seperti lingkaran rantai yang saling bergandengan hingga induknya, yaitu Rasulullah SAW. Jadi kalau induknya ditarik maka semua lingkaran yang terangkai akan ikut tertarik kemanapun arah tarikannya itu. Dan silsilah para wali sampai kepada Rasulullah SAW itu bagaikan sebuah rangkaian lingkaran-lingkaran anak rantai yang saling berhubungan.

Berbeda dengan orang yang berdzikir yang belum bertalqin/ bebaiat kepada seorang guru mursyid, ibarat anak rantai yang terlepas dari rangkaiannya. Seumpama induk rantai itu di tarik, maka ia tidak akan ikut tertarik. Maka kita semua perlu bersyukur karena telah diberi ghiroh (semangat) dan kemauan untuk berbaiat kepada seorang guru mursyid. Tinggal kewajiban kita untuk beristiqomah menjalaninya serta senantiasa menjaga dan menjalankan syariat dengan sungguh-sungguh. Dan hendaknya juga dapat istiqomah didalam murabathah (merekatkan hubungan) dengan guru musyid kita masing-masing.

Dasar Talqin
Didalam mentalqin dzikir, seorang guru mursyid dapat melakukan kepada jamaah (banyak orang) atau kepada perorangan. Hal ini didasarkan pada riwayat Imam Ahmad dan Imam Thabrani yang menerangkan bahwa Rasulullah SAW. telah mentalqin para sahabatnya, baik secara berjamaah atau perorangan.
Adapun talqin Nabi SAW. kepada para sahabatnya secara jamaah sebagaimana diriwayatkan dari Sidad bin Aus RA Ketika kami (para sahabat) berada dihadapan Nabi SAW, beliau bertanya: “Adakah diantara kalian orang asing "(maksud beliau adalah ahli kitab), aku menjawab: Tidak! Maka beliau menyuruh menutup pintu, lalu berkata:Angkatlah tangan-tangan kalian dan ucapkanlah La ilaaha illallah! Kemudian Beliau melanjutkan :Alhamdulillah, ya Allah sesungguhnya Engkau mengutusku dengan kalimat ini (La ilaaha illallah), Engkau perintahkan aku dengannya dan Engkau janjikan aku surga karenanya. Dan Engkau sungguh tidak akan mengingkari janji. Lalu beliau berkata: Ingat! Berbahagialah kalian, karena sesungguhnya Allah telah mengampuni kalian.
Sedangkan talqin Beliau kepada sahabatnya secara perorangan adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Yusuf Al-Kirwaniy dengan sanad yang shahih bahwa sahabat Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah pernah memohon kepada Nabi SAW : Ya Rasulullah, tunjukkanlah aku jalan yang paling dekat kepada Allah, yang paling mudah bagi hambanya dan yang paling utama disisi-Nya! Maka Beliau menjawab:Sesuatu yang paling utama yang aku ucapkan dan para nabi sebelumku adalah La ilaaha illallah. Seandainya tujuh langit dan tujuh bumi berada diatas daun timbangan dan La ilaaha illallah berada diatas daun timbangan yang satunya, maka akan lebih beratlah ia (La ilaaha illallah), lalu lanjut beliau: Wahai Ali, kiamat belum akan terjadi selama di muka bumi ini masih ada orang yang mengucapkan kata Allah. Kemudian sahabat Ali berkata: Ya Rasulullah, bagaimana aku berdzikir menyebut nama Allah? Beliau menjawab: Pejamkan kedua matamu dan dengarkan dariku tiga kali, lalu tirukan tiga kali dan aku akan mendengarkannya. Kemudian Nabi SAW mengucapakn La ilaaha illallah tigakali dengan memejamkan kedua mata dan mengeraskan suara beliau, lalu sahabat Ali bergantian mengucapkan La ilaaha illallah seperti itu dan Nabi SAW mendengarkannya. Inilah dasar talqin dzikir jahri (La ilaaha illallah).
Adapun talqin dzikir qolbi yakni dengan hati tanpa mengerakkan lisan dengan itsbat tanpa nafi, dengan lafadz ismudz-dzat (Allah) yang diperintahkan Nabi SAW dengan sabdanya :Qul Allah Tsumma dzarhum (Katakanlah, Allah lalu biarkan mereka), adalah dinisbatkan kepada Ash-Shiddiq Al-Adhom (Abu Bakar Ash-Shiddiq RA) yang mengambilnya secara batin dari Al-Musthofa SAW. Inilah dzikir yang bergaung mantap dihati Abu Bakar RA. Nabi SAW bersabda: Abu Bakar mengungguli kalian bukan karena banyaknya puasa dan shalat, tetapi karena sesuatu yang bergaung mantap didalam hatinya. Inilah dasar talqin dzikir sirri.
Semua aliran thoriqoh bercabang dari dua penisbatan ini, yakni nisbat kepada sayyidina Ali Karamallahu wajhah untuk dzikir jahri dan nisbat kepada sayyidina Abu Bakar RA untuk dzikir sirri. Maka kedua Beliau inilah sumber utama dan melalui keduanya pertolongan Ar-Rahman datang.

Nabi SAW mentalqin kalimah Thoyibah ini kepada para sahabat Radliallah anhum untuk membersihkan hati mereka dan mensucikan jiwa mereka, seta menghubungkan mereka kehadirat Ilahiyyah (Allah) dan kebahagiaan yang suci murni.Akan tetapi pembersihan dan pensucian dengan kalimah thoyibah ini atau Asma-asma Allah yang lainnya itu, tidak akan berhasil kecuali si pelaku dzikir menerima talqin dari Syaikhnya yang alim, amil, kamil, fahim, terhadap makna Alqur'an dan syariat, mahir dalam hadits atau sunnah dan cerdas dalam aqidah dan ilmu kalam, dimana syaikhnya tersebut juga telah menerima talqin kalimah thoyyibah tersebut dari syaikhnya yang terus bersambung dari syaikhnya yang agung yang satu dari syaikh agung yang lainnya sampai kepada Rasulullah SAW.

Adab Berdzikir
Untuk melaksanakan dzikir didalam thoriqoh ada tata krama yang harus diperhatikan, yakni adab berdzikir. Semua bentuk ibadah bila tidak menggunakan tata krama atau adab, maka akan sedikit sekali faedahnya. Dalam kitab Al Mafakhir Al-Aliyah fil Ma-atsir Asy-Syadzaliyah disebutkan pada pasal Adabuddz-Dzikr, sebagaiman dituturkan oleh Asy-Sya'roni bahwa adab berdzikir itu banyak tetapi dapat dikelompokkan menjadi 20 (dua puluh), yang terbagi menjadi tiga bagian; 5 (lima)adab dilakukan sebelum bedzikir, 12 (dua belas)adab dilakukan pada saat berdzikir, 2(dua) adab dilakukan seelah selesai berdzikir.
Adapun 5 (lima ) adab yang harus diperhatikan sebelum berdzikir adalah;
1… Taubat, yang hakekatnya adalah meninggalkan semua perkara yang tidak berfaedah bagi dirinya, baik yang berupa ucapan, perbuatan, atau keinginan.
2… Mandi dan atau wudlu.
3… Diam dan tenang. Hal ini dilakukan agar di dalam dzikir nanti dia dapat memperoleh shidq, artinya hatinya dapat terpusat pada bacaan Allah yang kemudian dibarengi dengan lisannya yang mengucapkan Lailaaha illallah.
4… Menyaksikan dengan hatinya ketika sedang melaksanakan dzikir terhadap himmah syaikh atau guru mursyidnya.
5… Meyakini bahwa dzikir thoriqoh yang didapat dari syaikhnya adalah dzikir yang didapat dari Rasulullah SAW, karena syaikhnya adalah naib (pengganti ) dari Beliau.
Sedangkan 12 (dua belas) adab yang harus diperhatikan pada saat melakukan dzikir adalah;
1… Duduk di tempat yang suci seperti duduknya didalam shalat..
2… Meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya
3… Mengharumkan tempatnya untuk berdzikir dengan bau wewangian, demikian pula dengan pakaian di badannya.
4… Memakai pakaian yang halal dan suci.
5… Memilih tempat yang gelap dan sepi jika memungkinkan.
6… Memejamkan kedua mata, karena hal itu akan dapat menutup jalan indra dhohir, karena dengan tertutupnya indra dhohir akan menjadi penyebab terbukanya indra hati / bathin.
7… Membayangkan pribadi guru mursyidnya diantara kedua matanya. Dan ini menurut ulama thoriqoh merupakan adab yang sangat penting
8… Jujur dalam berdzikir. Artinya hendaknya seseorang yang berdzikir itu dapat memiliki perasaan yang sama, baik dalam keadaan sepi (sendiri) atau ramai (banyak orang).
9… Ikhlas, yaitu membersihkan amal dari segala ketercampuran. Dengan kejujuran serta keikhlasan seseorang yang berdzikir akan sampai derajat Ash-Shidiqiyah dengan syarat dia mau mengungkapkan segala yang terbesit di dalam hatinya (berupa kebaikan dan keburukan ) kepada syaikhnya.Jika dia tidak mau mengungkapkan hal itu, berarti dia berkhianat dan akan terhalang dari fath (keterbukaan bathiniyah).
10.. Memilih shighot dzikir bacaan La ilaaha illallah, karena bacaan ini memiliki keistimewaan yang tidak didapati pada bacaan-bacaan dzikir syar'i lainnya.
11.. Menghadirkan makna dzikir didalam hatinya.
12.. Mengosongkan hati dari segala apapun selain Allah dengan La ilaaha illallah, agar pengaruh kata illallah terhujam didalam hati dan menjalar ke seluruh anggota tubuh.
Dan 3 (tiga) adab setelah berdzikir adalah;
1… Bersikap tenang ketika telah diam (dari dzikirnya), khusyu dan menghadirkan hatinya untuk menunggu waridudz-dzkir. Para ulama thoriqoh berkata bahwa bisa jadi waridudz-dzikr datang dan sejenak memakmurkan hati itu pengaruhnya lebih besar dari pada apa yang dihasilkan oleh riyadloh dan mujahadah tiga puluh tahun.
2… Mengulang-ulang pernapasannya berkali-kali. Karena hal ini (menurut ulama thoriqoh) lebih cepat menyinarkan bashiroh, menyingkapkan hijab-hijab dan memutus bisikan-bisikan hawa nafsu dan syetan.
3… Menahan minum air. Karena dzikir dapat menimbulkan hararah (rasa hangat di hati orang yang melakukannya, yang disebabkan oleh syauq dan tahyij (rasa rindu dan gairah) kepada Al-Madzkur/ Allah SWT yang merupakan tujuan utama dari dzikir, sedang meminum air setelah berdzikir akan memadamkan rasa tersebut.
4… Para guru mursyid berkata:Orang yang berdzikir hendaknya memperhatikan tiga tata krama ini, karena natijah (hasil) dzikirnya hanya akan muncul dengan hal tersebut.Wallahu a'lam.
Keterangan
1… Himmah para syaikh /guru mursyid adalah keinginan para beliau agar semua muridnya bisa wushul kepada Allah SWT.
2… Sikap duduk pada waktu melakukan dzikir ada perbedaan antara aliran thoriqoh yang satu dengan yang lainnya, bahkan antara satu mursyid dengan yang lainnya dalam satu aliran.Ada yang menggunakan cara duduk seperti duduk di dalam shalat (tawarruk atau iftirasy), ada yang tawarruk di balik artinya kaki kanan yang di masukkan di bawah lutut kaki kiri, ada yang dengan muroba (bersila) dan ada yang dengan cara seperti saat di baiat oleh mursyidnya. Oleh karena ittu maka sikap duduk didalam berdzikir bisa dilakukan sesuai dengan petunjuk guru musyidnya masing- masing.
3… Membayangkan pribadi syaikhnya seakan berada di hadapannya pada saat melakukan dzikir, yang lazim di sebut rabithah atau tashawwur bagi seorang murid thoriqoh. Hal tersebut lebih berfaidah dan lebih mengena dari pada dzikirnya itu.Karena syaikh adalah washilah /perantara untuk wushul kehadirat sang maha haq azza wa jalla bagi si murid, dan setiap kali bertambah wajah kesesuaian bayangannya bersama syaikhnya maka bertambah pula anugerah- anugerah dalam batiniyahnya, dan dalam waktu dekat akan sampailah dia pada apa yang dicarinya (Allah). Dan lazimnya bagi seorang murid untuk fana/ lebur lebih dahulu dalam pribadi syaikhnya, kemudian setelah itu ia akan sampai pada fana/ lebur pada Allah Swt.Wallahu a'lam.

4… Yang dimaksud dengan waridudz dzikir segala sesuatu yang datang atau muncul didalam hati berupa makna-makna atau pengertian-pengertian setelah berdzikir yang bukan dikarenakan oleh usaha kerasnya si pelaku dzikir.

SYEIKH ABDUL QADIR JAILANI


SYEIKH ABDUL QADIR JAILANI
Seorang ulama besar Abu Muhammad Muhyiddin Abdul Qadir bin Musa bin Abdullah Al-Jailani qs yang kemudian terkenal dengan nama Syeikh Abdul Qadir Jailani dilahirkan pada tahun 471 H/1078 M di Jailan Tabaristan. Dari silsilahnya ia masih keturunan Rasulullah saw. Mula-mula ia belajar Al-Qur’an dan setelah hapal Al-Qur’an ia belajar ilmu Fiqh menurut mazhab Ahmad bin Hanbal (Hanbali) kepada Syeikh Abul Wafa’ dan Syeikh Abul Khattab Al-Kalwazani. Dalam sastra dan bahasa Arab ia belajar kepada Abul Husein Abu Ya’la. Dalam bidang tasawwuf dan tarikat ia belajar kepada Syeikh Hamad Al-Dibas dan Ibnu Sa’ad Al-Mubarak. Demikian, masih banyak guru-guru dan bidang ilmu yang ia tekuni yang tidak dapat disebutkan semuanya di sini.

Ia hidup mandiri dari hasil usahanya sendiri dengan kehidupan zuhud, wara’ dan banyak beribadah sebagaimana lazimya seorang sufi. Sambil berdakwah, beliau memberikan pelajaran dan menjadi guru besar dalam tarikat yang kemudian diberi nama dengan namanya sendiri, yakni Tarikat Qodiriyah. Ia mengajar di Pesantren yang dibangunnya sendiri di Baghdad dan di Pesantren ini pula berdiri pusat kegiatan (ribath) tarikatnya. Di Pesantren inilah ia meninggal dunia pada tahun 561 H/1166 M.

Kesufian Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani diakui dan dibenarkan oleh berbagai kalangan, antara lain :
1.   Muwaffiq Ad-Din bin Qadamah (541-620 H) ahli fiqh mazhab Hanbali yang terkenal, mengatakan : Kami mengetahuinya di akhir usianya dan kami tinggal di sekolahnya dan tidak pernah saya dengar kekeramatan (karamah) yang banyak dibicarakan orang  sebagaimana yang dibicarakan tentang Abdul Qadir Jailani dan tidak kulihat orang-orang begitu memuliakan sebagaimana orang memuliakannya.
     Sebagian kaum muslimin di Asia Tenggara termasuk di Indonesia tentunya, juga sangat memuliakan Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani; Kenapa ?. Karena mereka meyakini bahwa Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani adalah salah seorang ulama pewaris nabi.
      Apa buktinya bahwa Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani adalah ulama pewaris nabi ?. Salah satu buktinya adalah dianugerahkan oleh Allah SWT karamah kepada beliau.
2.   Ibnu Katsir menguraikan tentang akhlak Abdul Qadir Jailani sebagai orang yang tangguh dalam amar ma’ruf nahi munkar, berbuat positif, zuhud, wara’ dan sufi yang disegani.
3.  Imam Adz-Dzahabi mengatakan bahwa Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani mempunyai banyak karamah yang jelas.
4.  Ibnu Rajab mengatakan bahwa Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani adalah guru di masanya, teladan orang-orang yang ma’rifat, pemimpin para syeikh, pemilik maqam dan karamah.
5.  Ibnu Ma’ad mengatakan bahwa karamah Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani melebihi batas dan tidak terhitung jumlahnya.
6.   Al-‘Izz bin Abdussalam mengatakan bahwa tidak ada karamah yang dinukil kepada kami secara mutawatir kecuali karamahnya Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.
7.   Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa tarikat Abdul Qadir Jailani adalah tarikat yang dibenarkan oleh syara. Ibnu Taimiyah semula beliau menentang ajaran tasawwuf dan tarikat, namun akhirnya dia meninggal dunia sebagai seorang sufi.

Karamah secara bahasa berasal dari kata al-karam lawan dari al-lu’mu (celaan) dan karrama berarti mengagungkan dan membersihkan. Secara istilah karamah adalah perkara luar biasa yang terjadi pada seorang muslim yang bukan nabi. Orang tersebut mendapat karamah karena dia dicintai Allah SWT.

Kenapa dicintai Allah karena dia beramal shalih dengan menjalankan syari’at-Nya, mempunyai aqidah yang benar dan berakhlak mulia mengikuti Nabi saw. Karamah itu merupakan bukti bahwa ketakwaan (aqidah, syari’ah dan akhlak) orang tersebut wushul (sampai), diterima dan diridhoi oleh Allah SWT. Jadi karamah merupakan stempel kewalian yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada orang yang bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa. 

Jadi waliyullah (kekasih Allah) adalah orang yang dimuliakan Allah dengan hidayah, lalu dia beriman kepada Allah, bertakwa kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengerjakan ketaatan lahir dan batin dan meninggalkan kemaksiatan lahir dan batin, mencintai orang yang dicintai-Nya dan memusuhi orang yang dimusuhi-Nya. Firman Allah dalam hadits qudsi yang diceriterakan oleh sahabat Abu Hurairah sedangkan lafadznya diambil dari kitab Hadits Bukhary :

Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku (kekasih-Ku), maka aku mengizinkannya untuk diperangi, dan tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa yang Aku wajibkan kepadanya, dan jika hamba-Ku masih mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah, maka Aku akan mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat, menjadi tangannya yang dengannya memegang, dan menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan.  Jika dia meminta kepada-Ku niscaya Aku memberinya dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya Aku akan melindunginya.  Aku tidak pernah ragu mengerjakan sesuatu, seperti keraguanku kepada jiwa seorang Mukmin yang benci mati, sementara Aku benci dia akan melakukan perbuatan tercela.

Mu’jizat adalah isim fa’il yang diambil dari kata al-‘ajzu yang artinya yang berada di luar kekuasaan. Mu’jizat adalah kejadian yang berada di luar kebiasaan untuk menyeru kepada kebaikan dan kebahagiaan, yang diikuti dengan seruan kenabian yang tujuannya untuk menampakkan kebenaran pada orang yang mengaku dirinya utusan Allah. 

Sebagian ulama mendefinisikan mukjizat dengan kejadian yang berada di luar kebiasaan, baik yang berupa perkataan maupun perbuatan, yang sejalan dengan pengakuan kerasulan, yang diikuti dan diterapkan pada saat muncul tantangan sebagai langkah awal, yang tidak seorang pun dapat menyamai atau mendekatinya. Firman Allah dalam Al-Qur’an, Surat : Al-Hadid : 25 :

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Al-Baghdadi berkata : Ketahuilah bahwa mu’jizat dan karamah itu sama karena keduanya sama-sama berada di luar kebiasaan (dalam arti  tidak mengikuti hukum alam). Hanya saja dia membedakan antara keduanya dari tiga aspek  :
1.   Sesuatu yang menunjukkan atas kebenaran para nabi disebut mu’jizat, sedangkan sesuatu yang menunjukkan atas kebenaran para wali disebut karamah.
2.   Pemilik mu’jizat menampakkannya untuk menguatkan kebenarannya, tetapi pemilik karamah berusaha untuk menyembunyikannya.
3.   Pemilik mu’jizat terjaga dari kekafiran setelah menampakkan mu’jizatnya, sedangkan pemilik karamah tidak menutup kemungkinan keadaannya berubah seperti yang terjadi pada Bal’am bin Ba’ura’.

Contoh mu’jizat :
1.   Tongkat Nabi Musa as menjadi ular dan bisa membelah lautan.
2.   Api tidak membakar Nabi Ibrahim as.
3.   Nabi Isa as menghidupkan orang yang sudah mati.
4.  Mu’jizat Al-Qur’an.
5.   Mu’jizat air memancar dari sela-sela jari Nabi Muhammad saw.
6.   Mu’jizat membanyakkan makanan yang sedikit.
7.   Mu’jizat paha kambing beracun berkata-kata kepada Nabi saw.
8.   Mu’jizat membelah bulan.
9.   Mu’jizat tangisan pelepah kurma.
10. Mu’jizat onta berbicara.
11. Mu’jizat pohon tunduk kepada Rasulullah saw.

Contoh karomah :
1.   Syeikh Abdul Qadir Jailani menghidupkan orang yang sudah mati ratusan tahun.
Dalam kitab Asrorut Tholibin diriwayatkan bahwa Syekh Abdul Qodir pada waktu melewati suatu tempat, beliau bertemu dengan seorang umat Islam yang sedang hangat bersilat lidah, beranggar kata, berdebat dengan seorang umat Nasrani. Beliau kemudian mengadakan penelitian dan pemeriksaan yang seksama apa penyebab terjadinya perdebatan yang sengit itu.

Kata seorang muslim : Sebenarnya kami sedang membangga-banggakan Nabi kami masing-masing, siapa diantara Nabi yang paling baik dan saya berkata kepadanya bahwa Nabi Muhammad saw yang paling utama. Sedangkan orang Nasroni mengatakan bahwa Nabi Isa yang paling sempurna.
Syekh bertanya kepada orang Nasroni : Apa yang menjadi dasar dan apa pula dalilnya, kamu bisa mengatakan bahwa Nabi Isa lebih sempurna daripada Nabi yang lainnya. Lalu orang Nasroni itu menjawab : Nabi Isa mempunyai keistimewaan, beliau bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Syekh melanjutkan lagi pertanyaannya : Apakah kamu tahu bahwa aku ini bukan Nabi, aku hanya sekedar penganut dan pengikut Agama Nabi Muhammad saw. Kata orang Nasroni : Ya benar saya tahu. Lebih jauh Syekh bertanya lagi : Kalau sekiranya aku bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati, apakah kamu bersedia untuk percaya dan beriman kepada Agama Nabi Muhammad saw ?.  Baik, saya mau beriman kepada Agama Islam, jawab orang Nasroni itu. Kalu begitu mari kita mencari kuburan, kata Syekh Abdul Qodir. Setelah mereka menemukan sebuah kuburan dan kebetulan kuburan itu sudah tua, sudah berusia lima ratus tahun.

Lalu Syekh mengulangi lagi pertanyaannya : Nabi Isa kalau akan menghidupkan orang yang sudah mati bagaimana caranya ?. Orang Nasroni menjawab : Beliau cukup dengan mengucapkan : Qum ! bi-idznillah, artinya : Bagun kamu dengan izin Allah. Nah sekarang kamu perhatikan dan dengarkan baik-baik, kata Syekh, lalu beliau menghadap pada kuburan tadi sambil mengucapkan : Qum ! bi-idzni, artinya : Kamu bangun dengan izin ku. Mendengar ucapan itu orang Nasroni tercengan keheran-heranan dan kuburan itu terbelah dan bangunlah mayat dari kuburan sambil bernyanyi. Konon pada waktu hidupnya mayat itu seorang penyanyi (musisi). Melihat dan menyaksikan peristiwa yang aneh itu, seketika itu juga orang Nasroni berubah keyakinannya dan beriman masuk Agama Islam.

2.   Syeikh Abdul Qadir Jailani berbuka puasa di rumah murid-muridnya pada sa’at yang sama.
Diriwayatkan, pada suatu hari pada bulan Romadhon, Syekh Abdul Qodir diundang berbuka puasa oleh murid-muridnya sebanyak tujuh puluh orang di rumahnya masing-masing mereka berkeinginan agar Syekh berbuka puasa di rumahnya masing-masing. Mereka tidak mengetahui bahwa masing-masing diantara mereka mengundang Syekh untuk berbuka puasa pada waktu yang bersamaan.

Tiba waktunya berbuka puasa bertepatan Syekh berbuka puasa di rumah beliau, detik itu pun rumah murid-muridnya yang tujuh puluh orang itu masing-masing dikunjungi oleh Syekh dan Syekh Abdul Qodir Jailani berbuka puasa tepat pada satu waktu yang bersamaan.

Peristiwa ini di kota Bagdad sudah masyhur terkenal di kalangan masyarakat dan sudah menjadi buah bibir masyarakat dalam setiap pembicaraan dan pertemuan.

Pertanyaan :
Bagaimana mungkin peristiwa yang luar biasa (karamah) itu banyak ditampakkan pada diri seorang ulama, padahal para sahabat saja yang nota bene mendapat pengajaran agama dan pendidikan ruhani langsung dari Rasulullah saw dan melihat langsung bagaimana ilmu agama tadi dipraktekan sehari-hari oleh Rasulullah saw, dengan demikian kualitas aqidah dan syariah para sahabat akan jauh lebih baik, lebih taqorub kepada Allah dan oleh karenanya lebih dicintai Allah SWT; kepada mereka tidak banyak diberikan sesuatu yang luar biasa, artinya tidak banyak karamah yang kita dengar lewat para sahabat Nabi saw.

Jawab :
Justru karena sinar Islam, kekuatan ruhani Islam pada zaman sahabat dan tabiin, masih sangat terang-benderang ibarat lampu yang bersinar dengan daya 1000 watt, karena mereka langsung mendapat bimbingan dan asuhan Rasulullah saw, maka dalam kondisi saat itu hampir tidak diperlukan media lain, semacam karamah, untuk membuktikan kebenaran ajaran-ajaran Islam. Karena ingat bahwa ditampakkannya karamah pada diri seorang wali OLEH ALLAH, tujuan nya tiada lain adalah untuk da'wah, bukan untuk unjuk kedigjayaan. Walaupun demikian ada beberapa karamah (kejadian luar biasa) yang ditampakkan oleh Allah melalui para sahabat, misalnya

1.   Khutbah Jum’ah Khalifah Umar ra ditujukan kepada Sariyah di balik gunung, berisi petunjuk-petunjuk perang, yang dapat didengar dengan jelas oleh Sariyah itu, padahal antara tempat Sariyah berperang dan tempat Umar berkhotbah berjarak ratusan kilo meter. Sariyah adalah komandan tentara yang sedang bertempur.
2.   Abu Bakar ra dapat melihat jenis kelamin anak yang akan lahir dari kandungan ibunya.
3.   Seorang, sesaat sebelum melaksanakan shalat berjamaah bersama Khjalifah Ustman bin Affan sebagai imam dan para sahabat lainnya, di situ juga ada Ali bin Abi Thalib, sahabat Anas bin Malik tidak sengaja menoleh ke kiri, dilihatnya wajah seorang perempuan yang sangat cantik rupawan yang terbuka cadarnya. Subhanallah, cantik sekali, gumannya. Dorongan nafsu syahwatnya begitu besar, sehingga qolbunya tak kuasa menahan dorongan nafsu tersebut untuk menyuruh matanya menoleh kembali ke arah wajah cantik itu. Setelah selesai sholat berjamaah, dilanjutkan wirid dan dzikir berjamaah kemudian ditutup dengan do’a. Sayyidina Ustman ra kemudian membalikan badannya menghadap kepada para jamaah, ditatapnya satu per sartu wajah jamaahnya. Ketika pandangannya tepat di wajah Anas bin Malik spontan khalifah berkata : Di kedua matamu aku melihat bekas zina. Para shabat yang lain terperanjat kaget mendengar perkataan Khalifah tadi, sambil mengarahkan pandangannya ke arah Anas bin Malik. Sayyidina Ali kw angkat bicara membela Anas, Tidak mungkin Khalifah, aku tahu persis perilaku sahabat Anas bin Mlaik. Anas lalu berdiri, Soddakta Ya Kahlifah (benar Ya Khalifah) tadi sebelum shalat aku melihat wajah seorang wanita yang terbuka cadarnya.

Setelah Rasulullah saw meninggal, kemudian siar Islam dijalankan oleh para sahabat. Setelah generasi sahabat meninggal, siar Islam dijalankan oleh tabiin. Setelah generasi tabiin meninggal, siar Islam diteruskan oleh tabiit-tabiin. Dan setelah generasi tabiit-tabiin meninggal, maka bergantilah generasi umat ke generasi para ulama. Sinar kekuatan Islam, aqidah-syariah-akhlak umat mulai terdegradasi pada masa ini, terkikis oleh perubahan zaman. Berbagai bentuk kemusyrikan, khurafat dan tahayul merajalela di tengah-tengah masyarakat.

Disamping itu, sejalan dengan perkembangan IPTEK, pola hidup konsumerisme, hedonisme dan materialisme tumbuh subur, sehingga manusia amat sangat cintanya kepada dunia dan melupakan kematian. Selain itu, akibat lemahnya kadar IMTAK umat, muncul berbagai penyakit masyarakat-dekadensi moral atau kemerosotan akhlak dan kejahatan, seperti perjudian, mabuk-mabukan, narkoba, perzinahan, pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, KKN dan lain-lain. Akibatnya kekuatan ruhani Islam semakin hari hari semakin redup, ibarat lampu yang intensitas sinarnya pada zaman sahabat 1000 watt,  kini telah berkurang hanya tinggal 100 watt lagi atau bahkan lebih rendah lagi.

Jadi, kondisi lingkungan masyarakat pada generasi ulama ini identik atau bahkan lebih kompleks dan lebih berat dibandingkan dengan kondisi lingkungan masyarakat yang dihadapi oleh para Nabi. Kalau para Nabi dilengkapi dengan media yang disebut mu’jizat untuk menyeru umat kepada kebaikan dan kebahagiaan, yang diikuti dengan seruan kenabian yang tujuannya untuk menampakkan kebenaran pada seorang utusan Allah. Maka Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Penyayang, memperkuat misi da’wah para ulama pewaris nabi dengan media yang disebut karamah, yang tujuannya adalah untuk menampakkan bukti bahwa :
  1. Aqidah, syari’ah dan akhlak ulama tersebut wushul (sampai), diterima dan diridhoi oleh Allah SWT .
  2. Ajaran yang di’amalkan dan dida’wahkan oleh para ulama tadi adalah benar, sesuai dengan Al-Qur’an dan sesuai pula dengan ajaran Nabi saw dan oleh karenanya diterima dan diridhoi oleh Allah SWT.

Rasulullah saw bersabda : “Ulama umatku sama dengan Nabi bani Israil”.

Last but not least, jika Allah MEMBISAKAN (MEMAMPUKAN) seseorang yang dikehendaki-Nya untuk melakukan hal-hal yang supra-natural melebihi mu'jizat para nabi sekalipun, ITU adalah 100 persen hak Allah, siapa pun tidak ada yang bisa mengintervensi Allah, ingat firman Allah:
“Allah berbuat sebagaimana yang dikehendaki-Nya” (QS. Al-Hajj : 14 dan 18).

Senin, 13 Februari 2012

IKRAR MANUSIA BERTUHANKAN ALLAH DI ALAM ROH


IKRAR MANUSIA BERTUHANKAN ALLAH DI ALAM ROH

Adakah manusia ingat bahawa setiap daripada kita telah berbai'at kepada Allah dan telah berikrar dan berjanji untuk bertuhankan kepada Allah di alam Roh ? Tentunya tidak ingat atau tidak tahu langsung kerana khabar beritanya sudah begitu lama, lalu Allah peringatkan kembali melalui FirmanNya ayat An Nahl 89 yang maksudnya:
"Dan Kami turunkan kepada kamu al kitab (al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan khabar gembira bagi orang yang menyerahkan dirinya"
Ayat di atas memungkinkan kepada manusia supaya jangan lagi mengadakan alasan-alasan untuk menafikan bahawa dia tidak pernah berjanji dan tidak mengenali Allah kerana Allah telah terangkannya di dalam al Quran seperti ayat al A'araf 172 yang bermaksud:
".. Bukankah Aku ini Tuhan kamu ? Maka semua menjawab (manusia) Benar ! Engkaulah Tuhan kami, kami menjadi saksi, dan yang demikian supaya kamu tidak berkata pada hari qiamat Kami adalah lalai"
Dan ayat ini di kokohkan lagi oleh ingatan Allah kepada manusia melalui An Nahl ayat 91 yang bermaksud :
"Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah kamu itu sesudah kamu mengokohkannya ..."
Dengan ayat yang di atas rasanya tiada alasan bagi manusia hendak menolak yang kita pernah mengenali Allah kerana Allah telah ingatkan kita dengan menurunkan ayat-ayatNya, pokok persoalannya siapa diri kita yang sebenarnya yang pernah berjanji itu dan bagaimana keadaannya? dan bagaimana pula keadaan Allah ketika itu ? Apa yang kita tahu Allah juga telah menyatakan keadaaNya berupa Zat Laisa kamishli syaiun ( tidak berupa apa jugapun) dan semua ini telah di terangkan oleh Allah bagi orang-orang yang menyerahkan dirinya. Orang yang telah menyerahkan dirinya ? Persoalan timbul diri yang mana yang hendak di serahkan dan bagaimanakah kendak menyerahkannya dalam erti kata Tawakkal 'Alallah !
Ada pandangan dari ulama khlaf bahawa terlalu sukar untuk menyerahkan diri kerana adanya kejadian jasad yang anasirnya sebagai penghalang untuk mempraktikkan bertawakkal kepada Allah kerana sifat jasad itu anasirnya dari atom-atom tanah,air,api dan angin yang kuasanya mampu menghalang dari bertawakkal sedangkan Allah bagi tahu bahawa jasad atau anasir jasad di jadilan hanyalah untuk menjadi saksi sajaha atas perbuatan manusia jadi apa kuasa penghalang yang ada padanya ? Sebagaimana firman Allah dalam surah Al Qiyamah ayat 14 dan 15 yang bermaksud:
" Bahkan manusia itu anggotanya menjadi saksi terhadap dirinya sendiri walaupun ia memberikan alasan-alasannya (untuk membela diri) "

IKRAR MANUSIA BERTUHANKAN ALLAH DI ALAM ROH II

Ada nas yang manusia itu telah berikrar kepada Allah bahawa mereka akur berTuhankan ALLAH semasa mereka di alam Roh lagi ketika zaman itu Allah belum lagi mencipta alam yang lain, manusia yang di maksudkan di sini adalah tanpa jasad iaitu Rohani yang lengkap Nyawa, akal, nafsu dan roh , maka ke empat-empat inilah yang di katakan manusia, mereka apabila telah di cipta oleh Tuhan maka di tempatkan di alam Roh dan di sanalah mereka ini di ambil saksi oleh penciptaNya dengan bertanyakan kepada mereka seperti yang di nyatakan oleh Allah pada surah Al A'araf 172
Pada zaman tersebut hanya saksi daripada manusia sahaja yang di ambil sedangkan ibadat mereka belum lagi di perintah oleh Allah kerana jasad mereka belum lagi di cipta oleh Tuhan ini bererti diri manusia itu tidak boleh beribadat melainkan ia memiliki jasad sebagai saksi atas perbuatan atau gerak geri ataupun ibadat mereka sebab itu Allah terangkan kepada kita bahawa anggota manusia itu sebagai saksi terhadap dirinya sendiri walaupun ia memberi alasan untuk membela diri Al Qiyamah 14 dan 15
Nah sekarang jelas bahawa diri manusia yang bernama Rohani itu tetap juga mahu berbohong kepada Allah sekalipun dia telah berikrar mahu berTuhankan kepada Allah semasa ia di alam Roh, apakah ikrar manusia mahu berTuhankan kepada Allah semasa di alam Roh ? Ikrar manusia ialah apabila manusia berkata "Ana 'abduka Ibni 'abduka la ma'abud ghoirika illa Anta" (aku hamba Kamu, anak-anak hamba Kamu, aku tidak meng'abdikan diriku melainkan kepada Kamu) yang membawa maksud "Tiada Tuhan yang aku sembah melainkan Allah " ertinya di alan tersebut buat pertama kalinya kaliamah ikrar itu di lafazkan iaitu LA ILLAHA ILLALLAH MUHAMMADARRASULLULLAH
Maka sejak di alam Rohlah juga manusia mengakui bahawa dirinya hamba kepada Tuhan ertinya ikut semua perintah Allah dan tinggalkan laranganNya yang membawa maksud Lillahi Ta'ala, maka itulah maksud LA ILLAHA ILLALLAH, so sekarang kita bagaimana ? Adakah kerja buat kita sekarang berasaskan Lillahi Ta'ala atau sebaliknya ? Umpamanya kerja-kerja mungkar adakah Lillahi ta'ala ? Kerana itu ada tegah dan ada suruh walaupun pada hakikatnya semua itu datang dari Allah "kullum min 'indillah" (segala sesuatu itu datang dari Allah) pada bab ini kita kena belajar qada dan qadar pula supaya tidak terkeliru
Sebaik saja kita di ambil kesaksian maka tinggallah kita di alam Roh menunggu arahan daripada Allah bila kita dapat menjadi hamba kepadaNya untuk menjalankan amanat La Illaha illallah ? Jawabnya sehingga Allah menjadikan Adam manusia pertama yang Allah jadikan dari bahan zat tanah, air, api dan angin bukan dari tanah yang kita fahami sekarang ini, ia adalah dari istilah-istilah sain iaitu atom-atom yang halus yang terdiri dari jauhar fardhi ataupun jirim dan jisim yang bahasa sekarang di kenali sebagai atom, neutron, proton, ion, elektron, neukles dan sebagainya

TUJUAN HIDUP MANUSIA

Sebagai umat manusia kita perlu bertanya kepd diri sendiri, tujuannya apa kita hidup didunia ini? Tiada lain untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akherat, sebagaimana yg tercantum dalam doa:
"Rabbana aatina fiddun-yaa hasanah wafil akhirati hasana, waqinaa adzabannar".
Untuk mencapai kebahagiaan didunia kita harus berusaha menjadi Ahsani taqwim dan Kholifah fil Ardhi. Terus bagaimana mencapai kehidupan akherat? Detik ini adalah akhirat bukan nanti, sebab batas kehidupan akhirat adalah kematian ( berpisahnya ruh dan jasad ) sebagaimana firman Alloh Swt: " Setiap yg berjiwa pasti merasakan mati. "( QS. Ali Imran : 185 )
Kalau kita bicara kepastian maka mati adalah suatu hal yg pasti kita alami semua. Namun kita perlu bertanya kepada diri sendiri. KEMANA KITA SESUDAH MATI? Kembali lagi Al-Qur'an memberi petunjuk sesungguhnya kita berasal dari Alloh dan akan kembali kepada Alloh. " Sesungguhnya kami adalah milik Alloh dan kepada-Nya lah kami kembali." ( QS Al-Baqorah :156 ).
Apa benar kta akan kembali kesana? Bagi para penempuh jalan spiritual tentu akan bertanya. BAGAIMANA CARANYA ( METODENYA ) KITA BISA KEMBALI KESANA?Mari kita kaji diri bahwa manusia bisa dibedakan menjadi dua bagian utama yaitu unsur fisik dan unsur Ruhani.Ketika manusia mengalami kematian, jasad dikembalikan keasalnya yaitu yg berasal dari tanah kembali ketanah, yg berasal dari Air kembali ke Air, yg berasal dari Udara kembali ke Udara dan yg berasal dari Api kembali ke Api. Kesemuanya itu akan terurai menjdi unsur2 diatas menjadi benda mati kembali. Lalu kita perlu bertanya,
BAGAIMANA DENGAN RUHANI KITA? Ternyata ada syaratnya agar ruhani bisa kembali kepada Tuhannya. Jiwa yg diterima atau dipanggil Alloh ada ktriteria dan batasannya seperti yg dikatakan didalam Al-Qur'an sbb:" Hai jiwa yg tenang ( suci ) kembalilah kepada Tuhanmu dg hati yg ridho lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah kedalam jamaah hamba2-Ku dan masuklah kedalam syurgaku." ( QS Al Fajr :27-30 )
Maka kita perlu bertanya lagi kepada diri sendiri.BAGAIMANA CARANYA MENDIDIK JIWA (RUHANI) AGAR DAPAT NAIK KEARAH YG LEBIH TINGGI? Caranya tidak lain adalah sebagaimana tercantum didalam Al Qur'an sbb:" Beruntunglah manusia yg membersihkan jiwa dg berdzikir ( mengingat ) Nama Tuhannya dan mendirikan sholat." ( QS Al A'Ala : 14-15 ) Dengan kata lain manusia bisa membersihkan ( mensucikan ) jiwanya adalah dengan mencari seorang Guru Mursyid dan mentalqin kalimat Laa Ilaaha illalloh kedalam ruhaninya dengan Alat dzikrulloh metode seperti ini didalam Al-Qur'an dinamakan THORIQAT.
‎" Dan bahwasanya jikalau mereka berjalan lurus diatas jalan ( metode ) yg benar, niscaya akan Kami turunkan hujan (Rahmat) yg lebat kemenangan/nikmat yg banyak." ( QS Al Jin :16 )

TIGA ISTILAH TAPI HAKIKATNYA SATU ITULAH ROH

Walaupun mempunyai tiga nama atau 3 istilah tetapi hakikatnya sama. Cuman peranannya yg berbeda. Dg peranan itulah yg menjadikan namanya tdk sama.
1. AKAL
Jika Ia dipanggil dg akal diwaktu ia berfikir, mengkaji, menilai, memperhati dan menyelidik.
2. ROH ( HATI/NYAWA )
Apabila Akal ini berperasaan seperti sedih, marah, senang, terhibur, gembira dan sebagainya ia dipanggil dg sebutan Roh.
3. NAFSU
Ketika Roh ini sedang berkehendak, berkemauan baik yg positif atau pun yg negatif, baik atau buruk, yg dibenarkan atau tidak, yg halal atau yg haram diwaktu maka ia dipanggil Nafsu.

Untuk mempermudah pemahaman diatas bisa dikiaskan contoh;
1. Manusia bila berbohong dinamakan pembohong.
2. Manusia bila menipu dinamakan penipu
3. Manusia jika korupsi dinamakan koruptor
4. Manusia apabila mencuri dinamakan pencuri dan lain-lainnya. Dinamakan pembohong, penipu, pencuri, koruptor hakikatnya adalah orang yg sama. Cuman namanya saja yg berbeda bila bertukar.

PANCARAN NUR ILAHI MELAHIRKAN KEYAKINAN ILMU YAQIN, AINUL YAQIN DAN HAQQUL YAQIN

Nur adalah kendaraan dan juga tentara hati. Sebagaimana Kegelapan adalah tentara Nafsu. Tanpa Nur yg berasal dari Alloh yaitu melalui Wasilah seorang Mursyid tidak mungkin wushul illalloh.
Karena Nur adalah kendaraan bagi hati untuk sampai kehadirantnya. Hati umpama badan dan Roh adalah Nyawa. Roh pula yg terkait dg Alloh Swt, keterkaitan itu dinamakan As-sirr ( Rahasia ). Roh menjadi nyawa ke pd Hati dan Sirr menjadi nyawa ke pd Roh atau dp pula dikatakan bahwa hakikat hati adlh roh dan hakikat roh adlh sirr. Karena sirr adlh hakikat ke pd sekalian yg maujud. Nur ilahi ( yg diperoleh lewat wasilah mursyid ) menerangi hati, roh dan sirr. Sehingga dg nur ilahi inilah terbuka tabir hakikat2 ilmu dan amal.
Orang yg mengambil hakikat dari buku2 atau ucapan orang lain, bukanlah hakikat yg sebenarnya tetapi hanyalah sangkaan dan khayalan belaka. Jika ingin mencapai hakikat yg sejati? perlulah mengambil seorang Mursyid sbg murabbi ( pembimbing ) ruhanimu dan mengambil talqin dzikir sebagai pembersih hati.Jika sudah menemukan seorang mursyid, serahkan semua hidupmu pd beliau dan berhidmatlah sepenuh jiwa raga serta mengamalkan dzikir dg istiqomah sesuai dg petunjuknya.Kemudian bersabarlah niscaya engkau akan dibukakan rahasia2 ilmu dan amal itu. insya Alloh, melalui beberapa peningkatan dalam proses mengenal Tuhan. Pada tahap awal terbukalah mata hati dan Nur kalbu memancar menerangi akalnya.
Seorang mukmin yg akalnya diterangi nur kalbu ia akan merasa dekat dg Tuhannya. Karena ia melihat dg ilmunya dan mendapat keyakinan yg dinamakan ILMU YAKIN. sehingga Ilmu berhenti disitu. Pada tahap kedua mata hati sudah dapat menyaksikan sifat2 Alloh, Ia tidak lagi melihat dg mata ilmu tetapi memandang dg mata hati. Memandang atau melihat dg mata hati itulah yg dinamakan KASYAF. Kasyaf melahirkan pengenalan ( makrifat ). Sesorang yg mendapat keyakinan melalui kasyaf itulah yg dinamakan AINUL YAKIN.
Pada tahap ainul yaqin makrifatnya ghaib dari dirinya sendiri. Maksud ghaib disini adalah hilang perhatian dan Tahap ketiga adalah penyaksian yg paling tinggi ialah penyaksian yg hakiki oleh mata hati atau penyaksian yg haq atau yg sering disebut HAQQUL YAKIN.
Pada tahap ini mata hati sudah tidak lagi melihat kepada ketiadaan dirinya atau kewujudan dirinya, tetapi Alloh dilihat dalam segala sesuatu, kegala kejadian, dalam diam dan dalam tutur katanya adalah firman Alloh atau yg disebut Al-Quranul Adhim.Penyaksian hakiki mata hati melihat-Nya tanpa dinding penutup antara kita dengan-Nya. Tiada lagi antara Ruang dan waktu antara kita dengan-Nya Itulah penyaksian seorang mursyid


MENGENAL DIRI MENGENAL ALLAH

Setengah daripada jalan mencapai makrifat itu ialah dengan mengenal diri seperti kata seorang sahabat Rasulullah SAW., Yahya bin Muaz Al-Razi ;
"Barangsiapa mengenal dirinya maka sesungguhnya mengenal ia akan Tuhannya".
Yahya bin Muaz mengambil faham daripada perkataan Nabi SAW. daripada pertanyaan seorang sahabat;
"Siapakah yang lebih mengenali TuhanNya, ya Rasulullah?
Maka sabdanya yang lebih mengenal mereka dengan dirinya."
Ada pun mengenal diri itu tiga [3] macam iaitu;
1. Periksa dan memahami.
2. Membuat bandingan dan ukuran.
3. Lemah dan tertegah.

1. Periksa dan memahami.
Hendaklah dimusyahadahkan akan kejadian diri kita kepada dua pandangan iaitu;
a. Pandangan yang pertama kepada diri zahir yang dijadikan akan dia daripada emapat anasir iaitu;
Tanah, Air, Api dan Angin..
yang bermula daripada kejadian lembaga Nabi Adam 'Alaihi-Salam. Setelah sempurna lembaga Adam maka dimasukkan Ruh ke dalamnya lalu hidup ia bernyawa, bergerak, melihat, mendengar, dan sebagainya seperti firman Allah dalam
Surah Al-Shod; 71-72 yang bermaksud;
"Ingat olehmu hai Muhammad ketika firman oleh Tuhan kamu bagi malaikatNya bahawa Aku jadikan manusia daripada pati tanah maka apabila aku sempurnakan dia dan aku masukkan ke dalamnya ruhKu, maka sekelian malaikat duduk dan sujud baginya".
Demikian juga dijadikan seorang perempuan yang bernama Hawa iaitu daripada jenis Adam juga seperti firmanNya dalam :
Surah An-Nisaak:1 yang bermaksud;
"Hai sekelian manusia, takutlah kepada Tuhanmu yang menjadikan kamu dari diri yang satu dan menjadikan isteri daripadaNya. dan daripada keduanya berkembang biak laki-laki dan perempuan yang banyak."
Ini bermakna, daripada Adam dan Hawa dijadikan akan segala keturunan melalui setitik air mani (Nutfah) yang dikandungkan di dalam rahim ibunya selama 40 hari kemudian dijadikan seketul daging (Mudghoh) kemudian pecah berupa berbagai; suatu bentuk lembaga manusia seperti firman Allah dalam :
Surah Al-Mukminun;14 yang bermaksud;
"Sesungguhnya telah Kami jadikan manusia daripada pati berasal daripada tanah kemudian Kami jadikan akan pati tanah itu air mani yang disimpan dalam tempat yang kukuh(rahim), kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah; maka segumpal darah itu kami jadikan tulang; maka Kami bungkuskan tulang itu dengan daging kemudian jadikan itu makhluk yang berbentuk lain; maka Mahasuci Allah ialah Pencipta yang paling baik".
Kemudian apabila sempurna kandungan yang ghalib sembilan bulan lalu keluar dari perut ibunya berupa manusia yang lemah (bayi) kemudian beransur-ansur sedikit demi sedikit bertambah subur dan kuat yang lengkap dengan pancaindera yang lima iaitu;
Penjamah,
Perasa,
Pendengar,
Pelihat,
Pencium.
Akhirnya menjadi seorang manusia yang gagah kuat yang mempunyai pancaindera batin yang lima iaitu; Khowatir, Cita, Niat, 'Alim, Fikir; dan sempurnalah sepuluh pancaindera yang dinamakan INSAN.
b. Pandangan yang kedua kepada diri yang batin yang digelarkan nyawa atau Ruh yang telah diberikan nama oleh Arif bil-Lah dengan bermacam-macam nama. Setengah daripadanya menamakannya;
Syaiun Zat-tiah pada tatkala memandang pada Martabat Wahdah dimusyahadahkan pertama-tama nyata dalam Ilmu Allah itu Ruh Nabi Muhammad SAW. Daripada pancar benderang Israk Nur Muhammad itu zahirlah sekelian alam dan segala yang benyawa. Setengah daripada Arif bil-Lah menamakan dia sebagai;
i.Alam Ma'ani : iaitu tanda yang tersembunyi sungguh kuat nyata dalam Ilmu Allah tetapi tiada ia maujud. Ia tersembunyi dalam Wahdatul Wujud melainkan ibarat jua yang maujud pada keesaan diri Hak Allah Taala. Setengah Arif bil-Lah menamakanya sebagai;
ii.Alam Laahut ertinya tanda kenyataan Zat dan setengah
Arif bil-Lah menamakannya sebagai;
iii.Alam Jabarut tatkala nyata ia pada martabat Wahdiah ertinya tanda kebesaran Zat dan sifatNya dan Af'alNya dan setengah daripada mereka menamakan sebagai;
A' yan Saabitah ertinya kenyataan yang amat teguh dan setengahnya menamakannya sebagai;
iv.Alam Asror ertinya tanda menerima Asror (rahsia) Allah kerana ia tempat nyata Hak Taala.
Maka tatkala sudah menjadikan Allah Taala nyawa ; maka menjadi Ia akan Alam Arwah dan maujud ia dengan Qudrat Allah dan Iradatnya. Maka dinamakan dia Alam Malakut ertinya tanda milik yakni tiada sekali terlepas daripada Ampunya Milik. Ini dinamakan juga A' yan Khorijah kerana sudah zahir wujudnya menerima asar (bekas/sesuatu yang dijadikan) dan hukum Zat Lawazim yang nyata ibaratnya dan syaratnya kepada Martabat Wahdah dan Wahdiah kerana
A' yan Khorijah itu A'yan Saabitah dan A'yan Saabitah itu yang menerima zahir Sifat Allah dan Asma Allah dan A'yan Khorijah dan Alam Malakut ialah sekelian alam sama ada Alam Kabir (Besar) atau Alam Shoghir (Kecil). Dan setengahnya menamakannya;
Ruh Idhofi kerana lengkap pada tubuh yang menggerak dan mendiam dan sebagainya. Setengah daripada mereka menamakannya sebagai;
Ruh Al-Qudus kerana ia suci daripada merasai mati dan daripada segala kecelaan dan sebagainya dan setengah daripada mereka menamakannya sebagai;
Ruh Al-Amri kerana ia menerima perintah Allah memerintah tubuh. Setengah daripada mereka menamakannya pula sebagai Ruh Al-Amin kerana ia menerima firman Allah yang datang pada hati hamba yang yakin akan Hak Taala. Setengah daripada mereka menamakannya sebagai;
Khotir ertinya gerak hati. Dan khotir itu ada empat macam iaitu;

1.Khotir Rahmaani iaitu apabila ia sentiasa berhadap dan musyahadah kehadirat Allah Taala; tidak memikirkan akan MaasyiwaLah (sesuatu yang lain daripada Allah).
2.Khotir Malaki iaitu apabila bertukar arah dan bergilir ganti. Kadang-kadang berhadap dan bermusyahadah ke hadrat Allah Taala dan kadang-kadang sesuatu yang lain daripada Allah.
3.Khotir Nafsaani iaitu sentiasa berhadap kepada kegemaran dan kelazatan dunia dan kemegahan dan kemulian yang bergelumbang dengan Ajib, Riya', Takbur, Suma'ah dan lain-lain lagi daripada segala sifat-sifat mazmumah.
4.Khotir Syathooni iaitu sentiasa gemar kepada pekerjaan yang derhaka dan jauh daripada berbakti dan beribadat.
Maka adalah sekelian itu daripada kelakuan Ruh pada badan yang datang sekelian itu daripada Fe'il (Kelakuan) yang Hakiki.
Setengah daripada mereka menamakannya sebagai; Akal kerana mengeluarkan fikiran dan kira bicara dan setengah daripada mereka menamakannya sebagai;
Nafsu kerana angkuh dan zalim dan setengah menamakannya sebagai; Qalbu kerana bertukar berbolak-balik sekali berhadap kepada Allah; sekali berhadap kepada dunia.
Adalah diri yang zahir dan yang batin terdiri padanya tiga perkara iaitu;
Jisim iaitu susunan kulit, daging, tulang, urat, darah, lendir dan sebagainya.
Jauhar iaitu Ruh atau nyawa'Aradh iaitu kelakuan dan rupa pandangan seperti panjang, pendek, tinggi, rendah, putih, hitam, bertemu, bercerai, baik, jahat dan sebagainya.

2. Membuat bandingan dan ukuran
Kejadian tubuh jasmani manusia itu mempunyai beberapa hikmah dan rahsia yang menyamai rahsia kejadian langit dan bumi, maka eloklah bapak cuba memberi gambaran perumpamaan dengan serba ringkas dalam Ilmu Tasrikh iaitu ilmu kejadian manusia.
Bahawa manusia mempunyai 360 tulang yang menyamai dengan 360 darjah pada bulatan bumi.
Manusia juga mempunyai 17 sendi yang besar-besar kerana lazim manusia jaga pada tiap-tiap sehari semalam tujuh belas jam iaitu 3 jam pada awal malam dan 2 jam pada awal siang dan 12 jam pada masa siang. Maka dalam 17 jam inilah gerak-geri anggota yang 17 sendi itu melakukan kebajikan atau kejahatan; maka diwajibkan dan difardukan ke atas manusia mengerjakan sembahyang lima waktu dalam sehari semalam sebanyak 17 rakaat.
Urat-urat besar dalam badan manusia berjumlah 12 urat iaitu ibarat 12 bulan setahun dan 12 jam pada siang dan 12 jam pada malam.
Dikatakan juga bilangan rambut manusia ada sebanyak
124 000 iaitu supaya mengingatkan bagi kita bilangan Nabi-nabi yang diikhtilafkan ulama sebanyak 124 000 orang dan banyak lagi rahsia-rahsia kejadian tubuh manusia yang sengaja ditinggalkan.
Pendek kata tidak ada satu kejadian yang boleh menyamai dengan kejadian manusia pada nisbah elok dan baik perdiriannya dan mulia keadaannya dan tinggi darjatnya jika hendak dibandingkan dengan kejadian-kejadian yang lain seperti firman Allah dalam :
Surat Al-Tin;4 yang bermaksud;
"Demi sesungguhnya Kami jadikan manusia itu seelok-elok kejadian"
dan tidak ada satu kejadian yang diperintah oleh Allah Taala kepada malaikat supaya memberi hormat dan tahiyat melainkan manusia (Adam) dan juga menyebabkan syaitan dimurkai oleh Allah dan dikutuk akan Dia kerana ingkar pada perintah Allah yang diperintahkan kepadanya supaya memberi hormat dan tahiyat kepada manusia (Adam). Dijadikan sekelian perkara ini untuk manusia dan dilengkapi pada manusia sifat Ma'ani yang tujuh kerana tempat menerima Asar(bekas) Sifat Ma'ani Qadim yang dinamakan Naskhah Al-Haq.


3. Lemah dan Tertegah
Apabila dimusyahadahkan akan kejadian diri samada diri yang zahir atau diri yang batin, maka tak sampai akal manusia untuk memikirkannya seperti Ruh, Akal, Nafsu dan Qalbu. Maka sukar hendak memberi gambaran atau takrif yang mensifatkan daripada jenis apa???
Al-Quran memberi pengajaran sebagaimana firman Allah dalam :
Surah Al Israk; Ayat 85 yang bermaksud;
"Akan ditanya akan engkau hai Muhammad tentang ruh; Katakan olehmu Ruh itu adalah daripada urusan Tuhanku"
Oleh kerana sukar hendak membuat takrif, maka digelar oleh orang-orang 'Ariffin dengan nama Lathifatul Rabaaniyah.

KADEUDEUH TI PANGERSA ABAH ANOM





KADEUDEUH TI PANGERSA ABAH ANOM
YAYASAN SERBA BAKTI PESANTREN SURYALAYA
Pondok Pesantren Suryalaya
Desa Tanjungkerta Pagerageung Tasikmalaya
Para Ikhwan kaum Muslimin, nu nuju dialajar Thorekat Qoodoriyyah Naqsyabandiyyah.
Assalamualaikum Wr. Wb.
Bismillahirrohmannirrohim
Alhamdulillah wasyukurillah,Abah teu kinten bingahna wireh kitab Aurod-aurod Thorekat Qoodriyyah Naqsyabandiyyah nu dinamian,
`UQUUDUL JUMAAN`
Parantos sababaraha kali dicitak, ieu the hiji tawis yen para ikhwan sadaya teu kinten meryogikeunnana kanggo katartiban dina ngajalankeun amalan Thorekat tadi, supados langkung mantep dina lebet pangabdian ka Allah Nu Maha Agung.Kukituna Abah ngajak ka para ikhwan sadaya, hayu urang sasarengan ngabaktoskeun kataatan dina lebet BAKTI NGABDI ka Pangeran khususna, kasasama, bangsa sareng nagara umumna.
Akhirna mugi Allah SWT, ngalimpahkeun Taufik sareng Hidayahna supados tambih manfaat sereng maslahatna kanggo urang sadayana.
Amin Yaa Robbal Aalamiin
Suryalaya, 11 April 1976
Wassalam,
Sesepuh
Pesantren Suryalaya


Syekh .A. Shohibulwafa Tajul Arifin Qs.








PADAMELAN SADIDINTEN:
Kanggo nu nuju dialajar Thorekat Qodriyyah Naqsabandiyyah unggal dinten saparantos netepan fardu, Dawuhna Allah SWT:
Faidza qodloitumus sholata fadzkurulloha
(upama maneh rengse sholat, lobakeun Dzikir ka Allah)

Bismillahirrohmaanirrohiim
(Kalayan nyebat jenengan Allah Nu Welas Asih)
Ilaa hadrotin Nabiyyil Mustofaa Muhammadin SAW, wa`alaa aalihii wa ashhaabihii wa azwaajihii wadzurriyyatihii wa ahli baetihii ajma`iin, syaeun lillahi lahum Alfaatihah.
(He Alloh, mugi Gusti ngadugikeun ganjaran nu diaos ku abdi, kapayunan Kanjeng Nabi nu diselir, nyaeta Kanjeng Nabi Muhammad SAW, mugi Gusti Alloh nambihan rahmat ka Kanjeng Nabi sareng kasalametan kakulawargina sareng ka sohabatna sareng ka geureuhana sareng ka seuweu-seuweuna sareng ka ahli bumina, sagala perkawis kagungan Alloh. Alfaatihah.)

Astagfirullahal ghofuurur rohim (3x)
(Abdi neda pangampura ka Gusti Alloh anu Maha Pangampun tur Maha Welas Asih)

Allohumma sholli `alla sayyidinaa Muhammad wa `alaa aalihii wa shohbihi wasallim (3x)
(He Alloh mugi Gusti nambihan rohmat ka jungjunan abdi sadaya Nabi Muhammad sareng ka kulawargina, ka sohabatna sareng mugi nambihan kasalametan)

Ilaahi anta maqshudi waridhloka mathluubii `athinii mahabbatka wama`rifataka.
(Nun Gusti Salira Gusti pisan nudiseja ku abdi Gusti, sareng karidloan salira nu ku abdi disuprih.  Mugi maparin ka abdi Gusti kana mahabbah sereng ma`rifat ka Salira Gusti)
 Teras dzikir ngadawamkeun

Laa Ilaaha Illalloh (3x)
(Teu aya deui Pangeran nu wajib disembah/diibadahan anging Alloh)
Saterasna DZIKIR 165x atanapi langkung numutkeun kapalay urang, kalayan di tungtungan ku etangan ganjil.

Dzikir ieu dipungkas ku maos
Sayyidunaa Muhammadur Rosuululloh Shollalloohu `alaihi wasallam
(Ari Jungjunan urang sadaya eta Kanjeng Nabi Muhammad anu jadi utusan Allah)

Teras ngadu`a,
Allohumma sholli `alaa Sayyidinaa Muhammadiw wa `alaa aali Sayyidinaa Muhammadin Sholaatan tunjiina bihaa min jamii`il ahwaali wal aafaati wataqdlii lanaa bihaa jamii `alhaayaati wa tuthohhirunaa bihaa min jamii`is saiaati wa tarfa`unaa biha `indaka a`lad darojaati wa tuballighunaa biha aqsholghoyaati min jamii`il khoerooti fil hayaati wa badalmamaati innal ladziina yubaayi`unaka innamaa yubaayi`unalloha yadullohi fauqoaidihim faman nakatsa fa innamaa yankutsu `alaa nafsihi wa man aofaa bimaa `aahada `alaihulloha fasayu tiihi ajron `adhimaa.
*Du`a ieu tiasa ditambih ku du`a sakersana.
(Nun Gusti Alloh mugi nambihan rahmat Gusti, ka Jungjunan abdi sadaya nyaeta Kanjeng Nabi Muhammad sareng ka kulawargina Jungjunan abdi sadaya Kanjeng Nabi Muhammad, kalayan rahmat anu matak nyalametkeun Gusti ka abdi sadaya nu sababiah eta rahmat tina sadaya pakewuh sareng panca bahya. Sareng nyumponan Gusti ka abdi sadaya ku sababiah eta rahmat kana sadaya pangabutuh. Sareng ngabersihkeun Gusti Ka abdi sadaya ku sababiah eta rahmat tina sadaya kaawonan. Sareng ngaluhurkeun Gusti ka abdi sadaya kusababiah eta rahmat kana pang luhur-luhurna darajat mungguh Gusti. Sareng ngadugikeun Gusti abdi sadaya ku sababiah eta rahmat kana panungtungan tujuan (pamaksadan) tina sagala rupi kasaean nalika hirup sareng maot. Saestuna jalma-jalma anu jaranji ka Anjeun Muhammad, eta teh jaranji ka Gusti Allah. Ari kakawasaan Gusti Allah eta dina saluhureun kakawasaan maranehna. Mangka sing saha jalma anu ngaruksak kana jangjina mangka pasti bahayana ngaruksak jangji eta teh tumiba kana dirina sorangan jeung sing saha jalma nyumponan kana sakumaha anu geus dijangjikeun ka Gusti Alloh, mangka Gusti Alloh bakal maparin kamanehna ganjaran anu gede.)

Ilaa hadlrotin Nabiyyil Mustofaa Muhammadin Shollallohu `alaihi wasallam wa `alaa alihii wa ashhaabihi wa azwaajihii wadzurriyyatihii wa ahli baetihi ajma`in syaeun lillahi lahum. Alfatihah.
(He Alloh, mugi Gusti ngadugikeun ganjaran nu diaos ku abdi, kapayunan Kanjeng Nabi nu diselir, nyaeta Kanjeng Nabi Muhammad SAW, mugi Gusti Alloh nambihan rahmat ka Kanjeng Nabi sareng kasalametan kakulawargina sareng ka sohabatna sareng ka geureuhana sareng ka seuweu-seuweuna sareng ka ahli bumina, sagala perkawis kagungan Alloh. Alfaatihah.)

Tsumma ilaa arwahi silsilatil Qoodiriyyah wan Naqsyabandiyyah wa jami`I ahlith Thuruqi khushuushoon ilaa hadlroti Sulthonil Aoliyaa`I Gaotsil `Abdul Qoodir Al Jaelaanii Qoddasallohu sirrohu wa sayyidi Syekh Abil Qoosim Al Junaedil Bagdaadi wa sayyidi  Syekh Ahmad Khoothib Syambaasi ibnu `Abdil Ghoffari wa sayyidi  syekh tolhah kalisaafuu wa Sayyidis Syekh Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad,wa syaikhina Al mukarom Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Aarifin wa ushuulihim wa furuu`ihim wa ahli sisilatihim wal aakhhidziina `anhum syaeun lillahilahum. Alfaatihah.
(Mugi didugikeun ka arwahna Guru-guru ahli runtuyan Thorekat Qoodiriyyah Naqsabandiyyah sareng ka sadaya ahli Thorekat, khususna kapayuneun rohna Aolia pitulung agung patakna alam, Guru urang Syekh anu ngahirupkeun agama, Abdul Qoodir al Jaelani. Mugi Gusti Alloh ngabersihkeun kana kubur Mantenna. Sareng Sayyid gegeden golongan ahli tasyawwuf Abil Qoosim Junaed AlBagdadi sareng kapayunen Syekh Ahmad Khotib Sambaasi ibn`Abdul Gooffar sareng ka payunen  Pangersa guru urang nu dimulyakeun, sareng ka asal usulna sareng ka cabang-cabangna, sareng ka ahli silsilah sareng kanu nyandak ti Anjeunna. Alfaatihah.)

Tsumma ilaa arwahii aabaa-inaa wa ummahatinaa walikaaffatii muslimiina walmuslimaati walmu`minaati al-ahyaa-I minhum wal amwaat syaeun lillahi lahum. Alfaatihah.
(Mugi didugikeun ka arwah bapak-bapak abdi sadaya, biang-biang abdi sadaya, kasadayana muslim pameget,muslim istri, kasadayana mu`min sareng mu`minat nu masih araya sareng nu tos teu aya. Alfaatihah.)

Astaghfirullooha robbi min kulli dzanbin wa atuubu ilaih. 3x
(Abdi nyuhungkeun panghampura ka Gusti Alloh tegesna Pangeran abdi sakabeh dosa sareng tobat abdi ka Anjenna).

Alloohumma sholli `alaa Muhammadin wa`alaa aali Muhammadin. Kamaa shollaeta `alaa Ibrohiima wa`alaa aali Ibrohiim, wa baarik `alaa Muhammadin wa`alaa aali Muhammad. Kamaa baarokta `alaa Ibrohiim wa`alaa aali Ibrohiim, fil`aalamiina innaka hamii dummajiid.
(Nun Gusti Alloh mugi nambihan rahmat ka Kanjeng Nabi Muhammad sareng ka kulawargina Kanjeng Nabi Muhammad, sakumaha parantos nambihan rahmat Gusti ka Kanjeng Nabi Ibroohim sareng ka kulawargina Kanjeng Nabi Ibroohim. Sareng mugi-mugi nambihan kaberkahan Gusti ka Kanjeng Nabi Muhammad sareng ka kulawargina Kanjeng Nabi Muhammad, sakumaha parantos masihan kaberkahan Gusti ka Kanjeng Nabi Ibroohim sareng ka kulawargina Kanjeng Nabi Ibroohim. Dina sadaya alam sayaktosna Gusti eta Dzat nu di Puji tur anu Agung)

Illahi anta waqshuudi wa ridlooka mathluubi a`thinii mahabbataka wama`rifataka.
(Nun Gusti, nya salira Gusti pisan nu di seja ku abdi Gusti, sareng karidoan Salira nu ku abdi disuprih. Mugi-mugi maparin ka abdi Gusti kana mahabbah sareng ma`rifat ka Salira Gusti.)
Teras `TAWAJJUH` kalayan panon duanana dipeureumkeun,lambey dirapetkeun, ilat dilirenkeun, mastaka ditungkulkeun, dupi manah teu liren-liren dzikir KHOFII.(dupi lamina mah sakawasana)






KHOTAMAN

Ilaa hadlrotin Nabiyyil Mustofaa Muhammadin Shollallohu `alaihi wasallam wa `alaa alihii wa ashhaabihi wa azwaajihii wadzurriyyatihii wa ahli baetihi ajma`in syaeun lillahi lahum. Alfatihah.
(He Alloh, mugi Gusti ngadugikeun ganjaran nu diaos ku abdi, kapayunan Kanjeng Nabi nu diselir, nyaeta Kanjeng Nabi Muhammad SAW, mugi Gusti Alloh nambihan rahmat ka Kanjeng Nabi sareng kasalametan kakulawargina sareng ka sohabatna sareng ka geureuhana sareng ka seuweu-seuweuna sareng ka ahli bumina, sagala perkawis kagungan Alloh. Alfaatihah.)

Tsumma ilaa arwaahi aabaa-ihii wa ikhwaanihii minal ambiyaa-I walmursaliin wa ilalmalaikatil muqorrobin walkaruubiyyiina was-syuhadaa-I was-sholihiin wa aali kullin wa ash-haabi kullin wa ilaaruuhi abiina aadama waumminaa hawaa-a wamaatana sala baenahumma ilaayaomidiin saeun lillahi lahum. Alfaatihah.
(Mugi didugikeun ka arwah rama-ramana sareng saderek-saderekna nyaeta para Nabi sareng Mursali sareng malaikat nu deuheus ka Alloh sareng ka malaikat Karrubiyyiina sareng sareng kanu maot syahid sareng ka para sholihin sareng ka Kulawargina sareng ka para sohabatna sareng ka ruhna bapa sadaya nyaeta Nabi Adam a.s sareng ka ibu abdi sadaya nyaeta Siti Hawa a.s sareng perkawis anu turun tumurun ti antara duaanana dugi ka poe qiamah, sadaya perkawis kaagungan Alloh mangka tetep ka Anjeunna. Alfaatihah.)

Tsumma ilaa arwaahi saadatinaa wa mawaalinaa wa-aimmatinaa Abii Bakrin wa `Umar wa `Utsman wa `Ali wa ilaa baqiyatis shohaabati walqaroobati wa-taabi`iina wattaabi`it taabi`iina lahum bibihsaanin ilaa youmiddiin, syaeun lillaahi lahum.Alfaatihah
(Mugi didugikeun ka para ruhna saadatinaa urang sadaya sareng nungurus urang sadaya sareng Imam urang sadaya nyaeta Abu Bakar, `Umar, `Utsman, `Ali sareng tabi`in sareng nu turut ka tabi`in ku kasaean, sadaya perkawis kaagungan Alloh mugi tetep ka Anjenna.Alfaatihah.)

Tsuma ilaa arwaahi a-immatil mujtahidiin wa muqollidiihim fiddin wal `ulamaa-ir roosyidiin wal qurrooil mukhlishiin wa ahlit-tafsiiri walmuhaditsiin wa saairi saadaatis shuufiyatil muhaqiqiin wa ilaa arwaahi kulli waliyyin waliyyatiw wamuslimin wamuslimatin min masyaariqil ardli ilaa maghooribihaa wamin yaminihaa ilaa syimaalihaa, syaeun lilaahi lahum. Alfaatihah.
(Mugi didugikeun ka ruhna para Imam Mujtahid sareng anu taklid ka aranjeunna dina agama sareng ka para ulama nu kenging pituduh sareng ka ahli ngaos Qur`an nu pada ikhlas sareng ka para Imam ahli hadits sareng ka ahli tafsir sareng ka raka-rakana Saadaatina urang, ka sadaya ahli tashawwuf anu nyata sadayana sareng ka ruhna tiap-tiap Wali pameget istri ti wetanna ti kulonna, ti katuhuna, ti kencana bumi, sagala perkawis kagungan Alloh, mugi tetep ka Anjeunna. Alfaatihah.)

Tsuma ilaa arwaahi ahli silsilatil Qoodiriyyah wan Naqsyabandiyyati wa jamii-I ahlit Thuruqi khushuushon ilaa hadlroti Sulthonil Aoliyaa-I Ghaosyil a`dhomi Quthbil`aalamiina Sayyidi Syekh `Abdul Qoodir Al Jaelanii wa Sayyidi Syekh Abiil Qoosimil Junaedilil-Baghdaadi wa Sayyidi Syekh Ma`ruufil Kurkhi wa Sayyidis Syekh Sirris Saqothii wa Sayyidis Syekh Habiibil `Ajamii wa Sayyidis Syekh Hasan Bashri wa Sayyidis Syekh Ja`farus Shoodiq wa Sayyidis Syekh Yuusufu Hamdaaniyii wa Sayyidis Syekh Abii Yaziidil Busthoomii wa Sayyidis Syekh Bahauddiin Naqsyabandii wa hadlroti Imaamir Robbanii wa Syekh Ahmad Khoothib Syambaasi ibnu `Abdil Ghoffari wa sayyidi  syekh tolhah kalisaafuu wahadhoroti syaikhina al mukarrom Syekh Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad,wa sayikhina Al mukarrom Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Aarifin wa ushuulihim wa furuu`ihim wa ahli sisilatihim wal aakhhidziina `anhum syaeun lillahilahum. Alfaatihah
(Mugi didugikeun ka arwah-arwahna guru-guru rantayan Thoreqat Qoodiriyyah Naqsyabandiyyah sareng ka sadaya ahli Thoreqat, khusus ka payuneun rohna Aoliya pitulung Agung patokna alam, Guru urang Syekh anu ngahirupkeun agama Syekh `Abdul Qoodir Al Jaelani mugi Allah ngabersihkeun kana kubur mantenna sareng Sayyid gegeden golongan ahli tasawwuf Abil Qoosim Junaedi Al Baghdaadi sareng Sayyid Sirris Saqooti, Sayyid Ma`ruf Al Kurkhi, Sayyid Habib Al`Ajaami, Sayyid Hasan Bashri, Sayyid Ja`far Assodiq, Sayid Abi Yaziid Al Busthomi, Sayyid Yuusuf Al Hamdaani, Sayyid Bahhauddin Naqsyabandi, Pangersa Imam Robbani, Pangersa guru urang anu dimulyakeun, ka rama-ramana, ka pal putrana, ka ahli silsilah sareng ka nu nyandak ti anjeunna. Alfaatihah.)

Tsumma ilaa arwaahi waalidiina wa waalidikum wa masyaayikhinaa wamasyaayokhum wa amwaatinaa wa amwaatikum wa liman ahsana ilainaa wa liman lahu haqqun `alainaa waliman aoshoonaa wastaoshoonaa waqolladanaa bidu`aa-ilkhoeri, syaeun lillahi lahum Alfaatihah.
(Mugi didugikeun ka arwah-arwahna bapa abdi sareng bapa aranjeun sadaya, ka guru-guru abdi sareng guru-guru aranjeun sadaya, kanu parupus pihak abdi sareng pihak aranjeun sadaya, ka jalmi-jalmi anu wasiat ka abdi sadaya, ka jalmi-jalmi anu nungtun ka abdi sadaya di sisi Gusti, kalayan du`a kasaean. Sagala rupi perkawis kaagungan Alloh, eta tetep ka Anjeunna. Alfaatihah)

Tsumma ilaa arwaahi jamii`il mu`miniina wal muslimina wal muslimaati al-ahyaa-I minhum wal-anwaat min masyaariqil ardli ilaa maghooribihaa wamin yamiinihaa ilaa syimaalihaa wamin qoofin ilaa qoofin min waladi Aadam ilaa yaomil qiyaamati syaeun lillaahi lahum Alfaatihah.
(Mugi didugikeun ka sadayana jalmi mu`min istri pameget, ka jalmi Islam istri pameget ka nu masih araya atanapi tos teu araya, ti wetanna ti kulonna bumi, oge ti katuhu sareng ti kenca gunung Qaf ka gunung Qaf, ti kawit Adam dugi ka poe Qiyamat. Sagala rupi kagungan Allah, eta tetep ka Anjeunna. Alfaatihah)

Allohhumma sholli`alaa Sayyidinaa Muhammadinin Nabiyyil ummiyyi wa`alaa aalihii washohbihii wassallim.    100x
(He Alloh, mugi Gusti nambihan rohmat ka Junjunan Abdi sadaya Nabi Muhammad anu tara nyerat sareng tara maos seseratan, sareng ka kulawargana, ka sohabat-sohabatna sareng mugi nambihan kasalametan)

Bismillaahhirrohmaanirrohiim
Alam nasyroh lakashodrok, wa wadlo`naa `ankawizrokalladziianqodlodlohrok, wa rofa`naa lakadzikrok, fainnama`al usriyusroo, innama`al usri yusroo, faidza faraghta fanshob, wailaa robbika farghob.  80x.
(Kalayan Asmana Alloh Numaha Murah Nu Maha Asih, Naha lain Kami geus ngajembarkeun dada maneh, jeung Kami geus miceun bangbuluh maneh, anu ngabeungberatan tonggongmaneh, jeung Kami geus ngangkat ngaran maneh?, saenyana dina kasusah (rohani) the aya kabungah, jeung saenyenyana dina karipuh (jasmani) the aya kasenangan, kesabab eta, upama maneh geus salse, jung geura nangtung (digawe deui), jeung nya ka Pangeran maneh kuduna maneh miharep.)

Bismillahhirrohmaanirrohiim
Qulhuwallohu ahad, Alloohus shomad, lam yalid walamyuulad, walam yakullahuu kufuwan ahad. 500X
(Kalayan Asmana Alloh Nu Maha Murah Nu Maha Asih, Pok caritakeun(Muhammad), saestuna Alloh Maha Tunggal, Alloh pamuntangan(sakumna mahluk), Anjeunna henteu puputra jeung henteu dibabarkeun, jeung henteu aya hiji oge anu nyaruan Anjeunna.

Ilaahadlorotis syekh Ahmad Baaqir, Alfaatihah.
(Mugi didugikeun Ka Syekh Ahmad Baaqir, Alfaatihah.)

Allohhumma sholli`alaa Sayyidinaa Muhammadinin Nabiyyil ummiyyi wa`alaa aalihii washohbihii wassallim.    100x
(He Alloh, mugi Gusti nambihan rohmat ka Junjunan abdi sadaya Nabi Muhammad anu tara nyerat sareng tara maos seseratan, sareng ka kulawargana, ka sohabat-sohabatna sareng mugi nambihan kasalametan)

Alloohumma yaa Qoodiyal haajaat.  100x
(He Alloh anu nyumponan sagala pangabutuh)

Alloohumma yaa kaafiyal muhimmat. 100x
(He Alloh anu nyukupkeun sagala nu diseja)

Allohumma yaa daafi`al baliyyaat. 100x
(He Alloh anu nolak sagala cocoba)

Alloohumma yaa foofi`ad darojaat. 100x
(He Alloh anu ngaluhurkeun kana pirang-pirang darajat)


Allohumma yaa syafiyal amrood. 100x
(He Alloh anu nyageurkeun kana sagala panyakit)

Allohumma yaa mujibad da`waat. 100x
(He Alloh anu ngaijabah kana sagala du`a)

Allohumma yaa arhamar roohimiin. 100x
(He Alloh anu pangasih-asihna anu asih kabeh)

Ilaa hadlroti Imaam Hawaajikin. Alfatihaah.
(Mugi didugikeun ka Imam Hawaajikin. Alfaatihah.

Allohhumma sholli`alaa Sayyidinaa Muhammadinin Nabiyyil ummiyyi wa`alaa aalihii washohbihii wassallim.    100x
(He Alloh, mugi Gusti nambihan rohmat ka Junjunan abdi sadaya Nabi Muhammad anu tara nyerat sareng tara maos seseratan, sareng ka kulawargana, ka sohabat-sohabatna sareng mugi nambihan kasalametan)

Laahaola walaa quwwata illa billaahil `alliyyil `adhiim. 100x
(Henteu aya daya henteu aya kakuatan, anging pitulung Alloh anu Maha Luhur anu Maha Agung)

Allohhumma sholli`alaa Sayyidinaa Muhammadinin Nabiyyil ummiyyi wa`alaa aalihii washohbihii wassallim.    100x
(He Alloh, mugi Gusti nambihan rohmat ka Junjunan Abdi sadaya Nabi Muhammad anu tara nyerat sareng tara maos seseratan, sareng ka kulawargana, ka sohabat-sohabatna sareng mugi nambihan kasalametan)

Ilaa hadlrotil Imaamir Robbaanii. Alfaatihah.
(Mugi didugikeun ka Imam Robbaanii. Alfaatihah.

Bismillahirrohmaanirrohmaanirrohiim
Qul a`uudzu birobbil falaqi, min syarri maa kholaqo wamin syarri ghoosiqin idzaa waqob, wamin syarrinnaffaatsaati fil `uqoodi wamin syarri haasidin idzaahasad. 100x.
(Kalayan asmana Alloh nu Maha Murah nu Maha Asih)Pek caritakeun(Muhammad), Kaula nyalindung ka pangeran nu murbeng balabat subuh, tina kajahatan nu niskara anu geus diyugakeun jeung tina kajahatan peuting dina mangsa poek mongleng, jeung tina kajahatan tukang niupangcangreud nalika (tukang tenung), jeung tina kajahatan nu hasud nalika hasudna)

Astaghfirulloohal `adhiimal ladzii laa ilaaha ilaa huwal hayyul qoyyuumu wa atuubu ilaih.100x
(Kaula nyuhungkeun panghampura ka Alloh anu Agung, anu henteu aya deui Pangeran anging Mantenna, anu hirup anu jumeneng ku anjeun sareng tobat abdi ka Anjeunna)

Bismillaahirrohmaanirrohiim
Qul-a`uudzubirobbinnaasi, malikinnaasi, ilaa hinnasi min syarril waswaasil khonnaas, alladzii yuwaswisu fii shuduurinnaasi, minal jinnati wannaasi. 100x
(Kalayan asmana Alloh nu Maha Murah sareng nu Maha Asih) Pek caritakeun (Muhammad), Kaula neda tulung nyalindung ka Pangeran nu ngaraksa nyariksa manusa, Rajana sakabeh manusa, Pangeran sakabeh manusa tina kajahatan anu ngaharewos, nu ngabobodo, nu ngaharewos dina hate manusa, tina bangsa jin jeung manusa.)

Ilaa hadlroti Sayyidinaa Mudhohir. Alfaatihah.
(Mugi didugikeun ka Syekh Mudhohir. Alfaatihah.)

Allohhumma sholli`alaa Sayyidinaa Muhammadinin Nabiyyil ummiyyi wa`alaa aalihii washohbihii wassallim.    100x
(He Alloh, mugi Gusti nambihan rohmat ka Junjunan abdi sadaya Nabi Muhammad anu tara nyerat sareng tara maos seseratan, sareng ka kulawargana, ka sohabat-sohabatna sareng mugi nambihan kasalametan)



Hasbunalloh wani`mal wakiil. 500x.
(Ari nu nyekapkeun ka abdi sadaya, eta Gusti Alloh sareng pangsaena nu nanggung pangabutuh makhluk)

Allohhumma sholli`alaa Sayyidinaa Muhammadinin Nabiyyil ummiyyi wa`alaa aalihii washohbihii wassallim.    100x
(He Alloh, mugi Gusti nambihan rohmat ka Junjunan Abdi sadaya Nabi Muhammad anu tara nyerat sareng tara maos seseratan, sareng ka kulawargana, ka sohabat-sohabatna sareng mugi nambihan kasalametan)

Ilaa hadlroti Syekh `Abdul Qoodir Al Jaelaani. Alfaatihah.
(Mugi didugikeun ka Syekh `Abdul Qoodir Al Jaelaani. Alfaatihah)
Allohhumma sholli`alaa Sayyidinaa Muhammadinin Nabiyyil ummiyyi wa`alaa aalihii washohbihii wassallim.    100x
(He Alloh, mugi Gusti nambihan rohmat ka Junjunan abdi sadaya Nabi Muhammad anu tara nyerat sareng tara maos seseratan, sareng ka kulawargana, ka sohabat-sohabatna sareng mugi nambihan kasalametan)

Ni`mal maolaa wa-ni`man nashiir. 500x
(Gusti pangsaena anu ngurus sareng pangsaena anu nulungan)
Allohhumma sholli`alaa Sayyidinaa Muhammadinin Nabiyyil ummiyyi wa`alaa aalihii washohbihii wassallim.    100x
(He Alloh, mugi Gusti nambihan rohmat ka Junjunan abdi sadaya Nabi Muhammad anu tara nyerat sareng tara maos seseratan, sareng ka kulawargana, ka sohabat-sohabatna sareng mugi nambihan kasalametan)

Ilaa hadlroti Syekhinal Mukarrom.Alfaatihah.
(Mugi didugikeun ka Syekhinal Mukarrom.Alfaatihah)

Allohhumma sholli`alaa Sayyidinaa Muhammadinin Nabiyyil ummiyyi wa`alaa aalihii washohbihii wassallim.    100x
(He Alloh, mugi Gusti nambihan rohmat ka Junjunan abdi sadaya Nabi Muhammad anu tara nyerat sareng tara maos seseratan, sareng ka kulawargana, ka sohabat-sohabatna sareng mugi nambihan kasalametan)

Ilaa hadlrotil Imaam Khowaajah An Naqsyabandiyyah, Alfaatihah.
(Mugi didugikeun ka Syekh Khowaajah Naqsyabandiyyah, Alfaatihah)

Allohhumma sholli`alaa Sayyidinaa Muhammadinin Nabiyyil ummiyyi wa`alaa aalihii washohbihii wassallim.    100x
(He Alloh, mugi Gusti nambihan rohmat ka Junjunan abdi sadaya Nabi Muhammad anu tara nyerat sareng tara maos seseratan, sareng ka kulawargana, ka sohabat-sohabatna sareng mugi nambihan kasalametan)

Laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minad dholimiin. 100x
(Henteu aya deui Pangeran anu wajib diibadahan anging Gusti, Maha Suci Gusti, saestuna abdi eta dina kaayaan tina sapalihna jalmi anu kaniaya)

Allohhumma sholli`alaa Sayyidinaa Muhammadinin Nabiyyil ummiyyi wa`alaa aalihii washohbihii wassallim.    100x
(He Alloh, mugi Gusti nambihan rohmat ka Junjunan abdi sadaya Nabi Muhammad anu tara nyerat sareng tara maos seseratan, sareng ka kulawargana, ka sohabat-sohabatna sareng mugi nambihan kasalametan)

Ilaa hadlroti Sayyidinaa Ma`shum, Alfatihah.
(Mugi didugikeun ka Syekh Muhammad Ma`shum,Alfaatihah.
Teras " TAWAJJUH "
Teraskeun ku ngaos,
Ilaahii anta maqshuudii waridloka mathluubi  (3x)
a`tinii mahabbataka wama`rifataka.
(Nun Gusti, nya kasalira Gusti pisan anu diseja ku abdi Gusti, sareng karidloan Salira nu ku abdi disuprih. Mugi-mugi maparin ka abdi Gusti kana mahabbah sareng ma`rifat ka Salira Gusti)

Yaa Latiif.  16.641 X



(He dzat nu Welas Asih)
DO`A  KHOTAMAN
Bismillaahirrohmaanirrohiim
Yaa Lathiif……3x. Yaaman wasi`a luthuhuu akhlas samaawati wal ardli nas-aluka bikhofiyyi luthfikal khofiyyi antukhfiyanaa fii khofiyyi khofiyyi luthfikal khofii, innaka qulta waqaolukal haqqu. Alloohu lathiifun bi`ibaadihi yarzuku mayyasyaa-u wahuwal qowiyyul `aziiz. Alloohumma inna nas-aluka yaaqowiyyu yaa `aziizu yzz mu`iinu biquwwatika wa`izzatika yaa matiinu antakuuna la naa `aonan wamu`iinan fii jamii`il aqwaali wal-akhwaali wal `afaali wa jamii`iimaana huu fiihi min fi`lil khoerottinaa wadzunuubinaa fainnaka antal ghofurrur rohiim,waqodqulta waqaolukalhaqqu waya`fuu `ankatsiirin. Allohumma bihaqqi manlatthofta bihii wawajahtuu `indaka waja`altal luthfal khofiyya taabi`an lahuu haetsu tawajjaha nas-aluka antuwajjihanaa `indaka wa antukhfiyanaa biluthfika innaka `alaa kulli syaein qoodiir. Washollalloohu `alaa Sayyidinaa Muhammadiw wa`alaa aalihii washohbihii wassallam walhamdulillaahi robbil `aalamin.
(Kalayan Asmana Alloh nu Maha Murah nu Maha Asih. He Dzat nu Welas……3x. He Dzat jembar kawelasannana ka ahli langit sareng ahli bumi. Nyuhungkeun abdi ka Gusti ku samara-samarna kawelasan Gusti nu samar. Mugi Gusti nyamarkeun ka abdi sadaya ku samara-samarna kawelasan Gusti nu samar. Saestuna Gusti parantos ngadawuh Gusti sareng dawuhan Gusti nu haq. Alloh anu welas ka pirang-pirang abdina anu ngarijkian ka jalmi anu dikersakeun sareng Anjeunna anu Gagah nu Mulya. He Alloh, saestuna abdi nyuhunkeun abdi sadaya ka Gusti. He Dzat anu Gagah anu Mulya. He Dzat anu nulungan kukakuatan Gusti sareng ku kamulyaan Gusti ka abdi sadaya eta nulungan sareng ngabantu dina sadaya ucapan-ucapan sareng sadaya padamelan sareng sadaya tingkah sareng sadaya perkawis anu aya abdi sadaya dina eta perkawis anu aya abdi sadaya dina eta perkawis tina midamel pinten-pinten kasaean, sareng mugi nolak ti abdi sadaya kana sagala rupi kajahatan sareng sagala siksa sareng sagala cocoba anu nyata ngahaq abdi sadaya ka eta sadayana, margi tina hilapan abdi sareng tina dosana abdi sadaya. Saestuna Gusti anu ngahapunten anu Asih sareng parantos ngadawuh Gusti sareng dawauhan Gusti eta haq sareng ngahapunten ti jalmi seueur midamel dosa. He Alloh kalawan haq jalmi anu welas, Gusti ka eta jalmi sareng mayunkeun Gusti sareng ngajantenkeun Gusti kana kawelasan anu samara eta anu ka jalmi dimana mayun eta jalmi disarengan Gusti. He Alloh saestuna abdi nyuhungkeun abdi Gusti yen nyanghareupan Gusti ka abdi di gedengeun Gusti sareng nyamarkeun Gusti ka abdi ku kawelasan Gusti, Sayaktosna Gusti kawasa kana sagala perkawis. Sareng mugi nambihan rahmat Alloh ka Jungjunan abdi sadata Kanjeng Nabi Muhammad sareng kakulawargana sareng kashohabatna kasalametan. Maha Suci Pangeran, Anjeun Pangeran nu Mulya tebih tina sagala perkawis anu nyipatan jalmi-jalmi anu malusyrik. Ari kasalametan eta mugi tetep kasadaya utusan. Ari sadaya puji eta kagungan Alloh anu ngaratuan sadaya alam.